Selasa, 26 Februari 2013

Hiasan-hiasan Candi


Kalamakara

          Sebuah bangunan candi menarik bukan hanya karena bentuk bangunannya yang indah, tetapi juga karena kekayaan hiasan-hiasan yang terkandung di dalamnya. Banyak sekali relief yang terdapat pada dinding-dindingnya. Selain itu juga terdapat patung-patung dewa dengan seni pahatnya yang indah. Patung-patung itu ada yang terbuat dari batu dan ada yang terbuat dari perunggu.
          Karena banyaknya ragam hiasan pada sebuah candi, saya akan membahas satu per satu jenis hiasan-hiasan tersebut.
1. Hiasan Kala-makara
          Pada setiap candi tentu terdapat hiasan ini. Kala-makara terdiri dari dua kata, yaitu Kala dan Makara. Kala berarti raksasa yang menakutkan, sedangkan makara berarti wujud binatang dongengan Hindu yang terdiri dari campuran bentuk-bentuk gajah, buaya, ikan. Hiasan kalamakara terdapat pada bagian atas pintu masuk candi. Kepala Kala dipahatkan pada bagian atas pintu masuk candi, sedangkan Makara terdapat pada bagian bawah pintu masuk. Hiasan Kala dan Makara selalu merupakan sebuah kesatuan, sehingga keduanya sering disebut sebagai satu nama, yakni Kalamakara.
          Hiasan ini sengaja dipasang di pintu masuk candi sebagai penjaga kesucian candi tersebut. Karena bentuknya yang menakutkan, yakni kepala raksasa yang sedang menyeringai, maka ia diharapkan dapat menakutnakuti roh-roh jahat yang akan memasuki bangunan candi yang dianggap suci.
          Di samping kalamakara yang bertugas menjaga kesucian candi, pada pintu masuk candi, agak ke depan, biasanya terdapat pula patung-patung raksasa yang disebut Dwarapala. Tetapi patung raksasa yang amat besar dengan sikap duduk dan memegang penggada ini, biasanya hanya terdapat di muka pintu utama yang menuju ke kompleks candi. Pada candi Budha sering terdapat patung singa di depan kalamakara. Tugasnya masih menjaga kesucian candi.
2. Hiasan Jaladwara
          Hiasan ini terdapat pada bagian kaki candi sebelah atas. Terpasang di pojok-pojok kaki candi atas, terutama pada candi-candi besar. Jaladwara berarti ikan. Hiasan ini melukiskan mulut ikan yang menghadap ke luar candi. Gunanya adalah untuk mengalirkan air hujan dari kaki candi ke luar candi. Lorong-lorong yang mengitari candi kalau musim hujan, tentu saja dipenuhi air. Agar air tidak mausk ke sela-sela batu candi, maka air tersebut harus dibuang melalui jaladwara. Jadi kalau hujan datang, pojok-pojok kaki candi memancarkan ke luar air hujan melalui mulut jaladwara tadi. Tentu merupakan suatu pemandangan yang mengasyikkan.
          Tetapi sekarang ini jaladwara kurang berguna seperti zaman dahulu kala, karena bangunan candi telah berubah, sehingga air tidak dengan mudah dialirkan lewat jaladwara.
3. Patung
          Patung-patung merupakan bagian terpenting dari bangunan candi. Justru sebenarnya candi dibangun untuk menyimpan patung-patung dewa tadi. Terdapat berbagai macam patung dalam candi-candi, artinya tidak tiap candi berisi patung yang sama, tergantung dewa apa yang diwujudkan dalam patung tadi. Pada candi agama Hindu berisi patung-patung dewa Hindu, sedangkan pada candi-candi agama Budha berisi patung-patung Budha atau Bodhisatwa.
          Pada candi-candi agama Hindu terdapat tiga buah patung yang utama, yakni patung dewa Siwa (yakni dewa perusak), patung dewa Wisnu (yakni dewa pemelihara), dan dewa Brahma (yakni dewa pencipta). Di samping itu juga sering dibuat patung-patung isteri masing-masing dewa tersebut. Dewi Uma adalah isteri dewa Brahma, Dewi Durga adalah isteri dewa Siwa, dan Dewi Sri serta Dewi Laksmi, keduanya adalah isteri dewa Wisnu. Juga putera dewa Siwa, yakni dewa Ganesha, sering dibuat patungnya.
          Setiap dewa Hindu selalu digambarkan bertangan empat. Kalau ada patung yang tidak bertangan empat, jelas itu bukan patung dewa. Masing-masing dewa dengan keempat tangannya memegang tanda-tanda tertentu. Adapun tanda-tanda maisng-masing dewa sebagai berikut:
Dewa Siwa, bertangan empat masing-masing memegang: camara (penghalau lalat), aksamala (tasbih), kamandalu (kendil), dan trisula (mata tombak berujung tiga). Dewa Siwa juga dilukiskan dalam bentuk-bentuk lain seperti Mahaguru, Mahakala, dan Bhairawa yang menakutkan.
Dewa Wisnu, empat tangannya memegang cakra (cakram), gada (pemukul), sangka (terompet kulit kerang), dan kuncup teratai.
Dewa Brahma, berkepala empat dan bertangan empat yang memegang: aksamala, camara.
Dewa Ganesha, putera dewa Siwa, mudah dikenali karena ia berkepala gajah dan bertangan empat dengan tanda-tanda dewanya.
Disamping itu, dewa-dewa Siwa, Brahma, dan Wisnu dikenali juga kerana bunatang kendaraannya. Siwa berkendaraan lembu, Wisnu berkendaraan garuda, dan Brahma berkendaraan angsa.
Dewa Kuwera banyak dipuja orang karena ia dewa kekayaan yang selalu digambarkan duduk di atas karung harta yang dikelilingi oleh periuk berisi harta kekayaan pula.
          Patung-patung dalam agama Hindu berbeda dengan patung dalam agama Budha. Ptung-patung Budha selalu digambarkan dalam sikap duduk bersila. Tangannya hanya dua dan selalu digambarkan dalam sikap tangan di depan badannya dengan berbagai sikap jari-jari tertentu yang dinamai mudra. Kepalanya berwajah tenang. Rambutnya ikal dan digelung. Pada dahinya ada titik besar yang dinamai urna. Dan bentuk telinganya biasanya agak besar memanjang ke bawah.
          Sedangkan patung Budha yang lain adalah Bodhisatwa. Bodhisatwa merupakan dewa pernatara, yakni dewa yang menghubungkan manusia dengan Budha yang sudah ada di nirwana. Patung Bodhisatwa biasanya berpakaian seperti raja-raja, sangata mewah, tetapi tangannya tetap ada dua, meskipun pakainnya mirip patung-patung dalam agama Hindu.
          Selain patung dewa atau Budha, kadang-kadang sebuah candi berisi patung lingga. Lingga adalah semacam tugu batu yang melambangkan dewa Siwa. Lingga itu dipuja seperti orang memuja dewa Siwa. Biasanya lingga ditaruh diatas sebuah yoni, yakni lambang isteri dewa Siwa. Bentuk yoni seperti kotak batu yang kadang-kadang disangga oleh hiasan naga.
4. Relief
          Relief adalah ukiran yang digoreskan pada permukaan batu. Relief berupa gambar atau hiasan. Ada relief yang menggambarkan urutan sebuah cerita agama, ada pula relief yang menggambarkan hiasan berbentuk tumbuh-tumbuhan dan bunga, serta ada relief yang menggambarkan ragam hias permadani.
 Relief berbentuk cerita biasanya terdapat di pagar dalam kaki candi, atau di kaki candi. Relief juga banyak dijumpai pada dinding badan candi. Relief yang terkenal sebgaai hiasan guirlande dan hiasan permadani didapatkan di bagian dinding kamar candi.
5. Hiasan Puncak
          Kalau pada kaki candi dan badan candi banyak ditemukan hiasan-hiasan berupa patung, relief, jaladwara, kalamakara, dan sebagainya, maka pada atap candi kita dapatkan hiasan-hiasan puncak candi yang biasanya terdiri dari bentuk antefix dan ratna atau stupa. Dalam beberapa candi masih didapat pula hiasan berupa relief  atau patung di bagian atap candi. Tetapi ini amat jarang terdapat. Pada candi Dieng dan candi Sari masih didapatkan hiasan puncak berupa relief atau kepala dewa.
          Pada bagian atap candi Hindu biasanya berbentuk bunga ratna dipakai sebagai hiasan. Sedangkan dalam candi agama Budha bentuk stupa yang didapatkan sebagai hiasan puncak. Tetapi ada pula hiasan puncak berupa ratna dan stupa sekaligus pada satu candi, misalnya candi Plaosan, di dekat Yogyakarta. 

0 komentar:

Poskan Komentar